Juara 3 lomba ROBOT INTERNASIONAL

3 siswa SD Muhammadiyah 21 Surabaya meraih juara 3 mendapatkan medali Perunggu di Internasional Islamic School Robot Olympiad (IISRO) di Kuala Lumpur pada tanggal 23 – 27 Mei 2012

Juara 3 lomba ROBOT INTERNASIONAL

3 siswa SD Muhammadiyah 21 Surabaya meraih juara 3 mendapatkan medali Perunggu di Internasional Islamic School Robot Olympiad (IISRO) di Kuala Lumpur pada tanggal 23 – 27 Mei 2012

Bersama Ibu Walikota Surabaya

Tidak hanya jagoan sekolah, ternyata anak-anak SD Muhammadiyah 21 Surabaya berprestasi diluar sekolah bersama ibu Walikota Surabaya mereka berpose bersama senyummmm..... kena dech

Pentas Seni Siswa Se-kota Surabaya

Banyak kegiatan di SD Muhammadiyah 21 Surabaya, salah satunya ikutan lomba. Gak main-main lho pesertanya SD se-kota Surabaya. Mereka bisa menyulap alat yg sudah gak kepakai bisa ngeluarin suara merdu

KEGIATAN SOSIAL

Wowwww..... salut buat anak-anak SD Muhammadiyah 21 Surabaya, selain prestasinya segudang tapi amal ibadahnya TOP BeGeTe

Saturday, 2 June 2012

Sang Juara












Sang Juara meraih prestasi dinegeri Jiran
Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan 
Putus Sekolah Dasar : 
Gerakan Saling Asah, Asih dan Asuh

Mas Darul Ihsan
(Dosen dan Pemerhati Masalah Pendidikan)
          
Di sebuah ruangan rumah yang agak kecil, tepatnya di pelataran belakang, yang juga biasa dipakai oleh si Ibu, dan ke-tiga anaknya, tepatnya di dapur yang berdekatan dengan kandang ayam dan kamar mandi. Pagi itu, didampingi dengan kepulan asap kayu yang biasa dipakai untuk memasak, memang kadang mereka pakai gas LPG, kebetulan saja isinya sudah habis dan belum sempat membeli yang baru. Pastinya, di jam- jam segitu, setelah sholat shubuh, sang ayah sudah berangkat ke sawah, sawah yang cuma sepetak tersebut yang merupakan tinggalan satu – satunya dari orang tuanya. Ibu, yang oleh ke-tiga anaknya dipanggil begitu, sapaan yang begitu dekat ditelinga, tanpa sekat, tanpa jarak dan tanpa arti. Yang pastinya, Ibu, dalam bayang – bayang pikiran imajinasi anak tersebut adalah sosok yang selalu mencukupi kebutuhan mereka di waktu pagi. Entah, di waktu pagi di saat sebelum sekolah atau ketika libur sekolah atau bahkan ketika mereka pulang dari sekolah.
            Selang beberapa saat, kemudian, mereka antara ibu dan ke-tiga anaknya, memulai percakapan kecil. Sebuah percakapan yang acapkali kita dengar disekeliling kita.
            Ibu: “… Aduh, nak, kamu dan juga adik – adikmu bisa makan saja itu merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang sangat luar biasa.”
            Suasana menjadi hening. Suasana kebatinan mereka berada pada sikap patuh, mendengar dan melaksanakan.
            Anak pertama menyaut perkataan Ibunya, karena dia merasa perkataan tersebut ditujukan kepadanya, ketika Ibunya bilang, “kamu dan juga adik – adikmu.”
            Anak pertama: “Kenapa koq tiba – tiba bicara seperti itu bu ...”
            Ibu: “Tidak ada apa – apa nak, kita harus bisa selalu bersabar dan bersyukur.”
            Ibu tersebut sadar kalau masa depan anak – anaknya masih sangat jauh, anaknya yang pertama saja masih kelas 5 Sekolah Dasar atau SD, sedangkan yang ke dua dan ketiga, masih kelas 3 SD dan sekolah di Taman Kanak Kanak atau TK dekat balai desa, TK A.


            ***
            Jika kita kaitkan perspektif kita tentang pendidikan terutama pendidikan Dasar dengan sepenggal cerita di atas. Maka, ada sebuah semangat pantang mundur serta optimisme yang tumbuh dan mengalir dari dalam diri si Ibu, untuk memastikan serta membekali anak mereka dengan sifat Ilahiah, ke-Tuhan, dari cerita tersebut kita yakni bahwa: 1) Milikilah sifat selalu sabar dan syukur, bahwa akan ada pertolongan Tuhan. 2) Mengajarkan sifat optimisme kepada anaknya, terutama anak yang tertua, bahwa masa depan masih panjang, capailah cita- cita tersebut dengan pendidikan yang tinggi. 3) Harus ada upaya lain, kerja nyata yang bisa memastikan bahwa setiap anak yang dilahirkan di bumi Indonesia ini mendapatkan pendidikan yang layak, tetap lanjut sekolah dan dengan memperbaiki kualitas keintelektualan mereka. Boleh jadi, sepenggal cerita di atas (baca: lagi) bisa saja kita temui di belahan bumi Indonesia lain dimana kita bertempat tinggal saat ini. Kita boleh percaya bahwa problem tersebut ada, dengan perspektif bahwa: 1) keberadaan mereka (baca: poin ke-3 dari perspektif cerita) bisa saja tidak diketahui, tidak kita ketahui. 2) keberadaan mereka diketahui, tapi kita tidak punya daya dan upaya untuk menjadi bagian dari solusi atas masalah tersebut, dan atau 3) apakah kita sebenarnya mengetahui keberadaan mereka tapi kita diam seribu langkah, dengan berjuta alasan. Oleh karena itu, langkah lanjutan dari perspektif cerita tentang pendidikan terutama adalah upaya nyata memastikan bahwa setiap anak yang dilahirkan di bumi Indonesia ini mendapatkan pendidikan yang layak, tetap lanjut sekolah dan dengan memperbaiki kualitas keintelektualan mereka serta memposisikan kita sebagai orang yang mengetahui keberadaan mereka dan menjadi bagian dari solusi tersebut.


Selengkapnya >>>>